One Month One Museum: Pola Komunikasi Berulang dalam Sejarah


Gambar 1 Tim O2 Consulting berkunjung ke Museum Ciputra Artpreneur yang memamerkan koleksi lukisan Hendra Gunawan

O2 Consulting memiliki program rutin bulanan, yaitu berkunjung ke museum dengan tajuk One Month One Museum atau OMOM. Selama tujuh tahun program ini berjalan, kami telah mengunjungi lebih dari 50 museum dan pameran, seperti Museum Nasional, Museum Kebangkitan Nasional, Museum Bahari, Museum Zoologi Bogor, Monumen Nasional (Monas), hingga berbagai pameran seni kontemporer dan instalasi publik di Jakarta dan sekitarnya.

Gambar 2 (Ki-Ka): Kids Biennale Indonesia 2025, Museum Bahari, dan Museum Kebangkitan Nasional

Sekilas, aktivitas ini tampak jauh dari pekerjaan di bidang komunikasi kebijakan publik. Uniknya, semakin sering mengunjungi museum, semakin terasa bahwa banyak tantangan komunikasi yang kita hadapi hari ini sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru. Teknologi dan medianya berubah. Namun, cara masyarakat menyebarkan pesan dan mengambil keputusan sering kali bergerak dalam pola yang serupa.

Pelajaran tersebut muncul dalam berbagai bentuk. Dua di antaranya datang dari Museum Kebangkitan Nasional dan Museum Bahari.

Pesan Bergerak Melalui Simpul Kepercayaan

Salah satu bagian yang paling membekas dari kunjungan ke Museum Kebangkitan Nasional adalah kisah Tirto Adhi Soerjo, tokoh yang kemudian dikenal sebagai Bapak Pers Indonesia. Pada 1907, ia mendirikan Medan Prijaji sebagai ruang untuk menyuarakan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat bumiputra di bawah pemerintahan kolonial. Melalui surat kabar tersebut, Tirto menulis tentang ketidakadilan hukum, perlakuan diskriminatif, serta berbagai persoalan yang pada masa itu jarang mendapat ruang di media kolonial.

Konteksnya menjadi semakin menarik ketika melihat kondisi masyarakat pada awal abad ke-20. Tingkat literasi masyarakat bumiputra saat itu hanya berkisar 6,5 persen. Dengan kondisi tersebut, jumlah orang yang dapat membaca Medan Prijaji tentu sangat terbatas.

Jika demikian, mengapa pengaruhnya begitu besar?

Jawabannya terletak pada bagaimana gagasan tersebut terus bergerak setelah meninggalkan halaman surat kabar. Kelompok terdidik yang membaca Medan Prijaji banyak terlibat dalam organisasi, ruang diskusi, dan berbagai aktivitas pergerakan yang sedang tumbuh pada masa itu. Organisasi, seperti Boedi Oetomo, Sarekat Islam, Indische Partij, maupun tokoh seperti H.O.S. Tjokroaminoto, memperlihatkan bagaimana berbagai gagasan tentang keadilan dan identitas kebangsaan beredar melalui jaringan sosial yang semakin berkembang.

Gambar 3. Patung tokoh pelajar STOVIA saat pembentukan organisasi Budi Utomo

Pola semacam ini kemudian dijelaskan oleh Paul Lazarsfeld dan Elihu Katz melalui teori Two-Step Flow of Communication. Dalam banyak kasus, pesan terlebih dahulu diterima oleh individu atau kelompok yang memiliki pengaruh tertentu sebelum diteruskan kepada publik yang lebih besar.

“Ideas often flow from radio and print to opinion leaders and from them to the less active sections of the population.”

Sulit untuk tidak melihat kemiripannya dengan kondisi hari ini. Kita hidup di tengah kelimpahan informasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Media sosial, platform digital, dan kecerdasan buatan membuat produksi informasi berlangsung dalam skala yang sangat besar. Namun di tengah banjir informasi tersebut, kebutuhan akan sumber yang dipercaya tampaknya tidak menghilang.

Tokoh dan teknologinya memang berubah. Dahulu peran itu mungkin dimainkan oleh tokoh pergerakan, organisasi sosial, atau surat kabar. Hari ini peran yang serupa dapat dijalankan oleh jurnalis, akademisi, pakar, maupun kreator digital di media sosial.

Bahasa Universal di Pelabuhan Batavia

Beralih ke Museum Bahari, salah satu artefak sejarah komunikasi yang menarik untuk diamati adalah Menara Syahbandar yang dibangun pada 1839. Pada masa kejayaan aktivitas maritim Batavia, menara ini berfungsi sebagai pusat kendali lalu lintas laut sekaligus menara pengawas.

Gambar 4. Menara Syahbandar Kompleks Museum Bahari

Tantangan yang dihadapi saat itu cukup besar. Otoritas pelabuhan harus menyampaikan informasi mengenai izin bersandar, kondisi pelabuhan, hingga potensi bahaya kepada kapal-kapal yang datang dari berbagai wilayah dengan latar belakang bahasa yang berbeda.

Solusinya adalah penggunaan sistem isyarat bendera pada siang hari dan lampu suar pada malam hari. Setiap warna, posisi, dan kombinasi bendera memiliki arti yang telah dipahami bersama. Melalui sistem ini, informasi dapat diterima secara cepat tanpa bergantung pada bahasa yang digunakan masing-masing pelaut.

Apa yang dilakukan Menara Syahbandar pada dasarnya adalah mengurangi ruang ambiguitas. Ketika audiens sangat beragam, efektivitas komunikasi ditentukan oleh seberapa mudah pesan tersebut dipahami secara konsisten oleh semua pihak yang menerimanya.

Pelajaran dari Menara Syahbandar tidak berhenti pada konteks pelabuhan. Prinsip yang sama masih muncul dalam berbagai bentuk komunikasi publik saat ini. Ketika kebijakan disampaikan kepada masyarakat yang sangat beragam, tantangannya adalah bagaimana membuatnya cukup jelas untuk dipahami secara konsisten.

Persoalan tersebut dapat ditemukan dalam berbagai isu kebijakan publik, salah satunya polusi udara di Jakarta. Dalam beberapa tahun terakhir, kualitas udara Jakarta berulang kali menjadi perhatian media dan lembaga riset. Pada 2023, rata-rata konsentrasi PM2.5 Jakarta tercatat sekitar 39 μg/m³, jauh di atas pedoman tahunan WHO sebesar 5 μg/m³. Namun keberadaan informasi tersebut tidak selalu diikuti oleh perubahan perilaku ataupun upaya pengendalian polusi udara di Jakarta. Ketersediaan informasi ini tidak selalu menghasilkan tindakan yang sama. Dalam Protective Action Decision Model (PADM), respons masyarakat terhadap suatu risiko dipengaruhi oleh bagaimana mereka memaknai ancaman yang dihadapi, apakah tindakan yang dianjurkan dianggap bermanfaat, dan seberapa besar kepercayaan mereka terhadap pihak yang menyampaikan pesan.

Gambar 5. Protective Action Decision Model (PADM) tentang proses pengambilan keputusan dalam merespons risiko

Dalam konteks polusi udara, sebagian masyarakat mungkin belum menganggap kualitas udara sebagai ancaman yang cukup dekat dengan kehidupan mereka (threat perception). Sebagian lainnya memahami risikonya, tetapi belum yakin bahwa perubahan perilaku tertentu akan memberikan manfaat yang berarti (protective action perception). Respons tersebut juga dipengaruhi oleh tingkat kepercayaan terhadap pemerintah, pakar kesehatan, media, maupun organisasi yang menyampaikan informasi tersebut (stakeholder perception).

Pelajaran yang dapat diambil dari Menara Syahbandar adalah memastikan bahwa informasi tersebut dipahami dengan jelas dan cukup dipercaya untuk menghasilkan tindakan. Pada abad ke-19, otoritas pelabuhan menggunakan simbol visual yang sederhana agar pelaut dari berbagai negara dapat mengenali risiko yang sama dan mengambil keputusan yang sama. Dalam komunikasi kebijakan publik hari ini, prinsip tersebut tetap relevan.

Penutup

Program One Month One Museum bukan investasi yang hasilnya langsung terlihat pada KPI bulan berikutnya. Nilainya justru terletak pada kesempatan untuk melihat persoalan masa kini melalui rentang waktu yang lebih panjang.

Semakin sering mengunjungi museum, semakin terlihat bahwa pola komunikasi masyarakat tidak banyak berubah. Teknologi dan medianya terus berganti, tetapi cara orang mempercayai informasi, menyebarkan gagasan, dan mengambil keputusan sering kali bergerak dalam pola yang serupa.

Gambar 6. O2 Consulting berkunjung ke Pelataran Puncak Monumen Nasional (Monas)

Tertarik untuk mengeksplorasi museum dan belajar hal baru bersama O2 Consulting? Pastikan ikuti dan pantau media sosial O2 Consulting untuk mendapatkan informasi One Month One Museum berikutnya!

Author

Tags: