Film nasional mulai menampakkan cerita tentang ekonomi kelas menengah ke bawah. Mengapa?

Sumber foto: Instagram @cinema.21
Saat ini banyak pilihan film Indonesia yang mengangkat cerita tentang kondisi ekonomi kelas menengah ke bawah. Karya seni ini seolah menjadi suara kolektif untuk menggambarkan kondisi generasi saat ini yang terhimpit oleh persoalan ekonomi dan keterbatasan dalam mengelola keuangan. Generasi dengan kondisi ini sering disebut sebagai generasi roti lapis atau Sandwich generation.
Film 1 Kakak 7 Ponakan, misalnya, viral karena mengangkat cerita tentang seorang paman yang harus membiayai tujuh keponakannya. Diikuti juga oleh film Home Sweet Loan yang kental dengan kehidupan generasi Sandwich, di mana pemeran utamanya kesulitan untuk membeli rumah sebab ia yang menanggung kebutuhan finansial keluarganya. Sebagai media komunikasi massa, film mampu menggambarkan realitas fenomena Sandwich generation yang mengalami keterbatasan ekonomi serta kendala dalam mengelola keuangan.
Isu kondisi ekonomi kelas menengah dan label generasi Sandwich ini juga banyak dibicarakan oleh generasi muda, terutama generasi Z. Kondisi ini terasa nyata bagi generasi ini karena usia mereka masih tergolong muda dan harus terbebani dengan tanggung jawab finansial orang lain.
Apa itu Sandwich generation?
Istilah ini mulai dikemukakan oleh seorang profesor asal Kentucky, Amerika Serikat, bernama Dorothy A. Miller dalam bukunya yang berjudul Social Work pada tahun 1981. Sandwich generation adalah istilah untuk mereka yang menanggung beban finansial untuk setidaknya tiga generasi, termasuk dirinya sendiri.
Biasanya, generasi Sandwich menanggung beban finansial untuk dirinya, generasi di atasnya (orang tua), dan generasi di bawahnya (anak).
Kecemasan akan masa depan
Bagi generasi Sandwich, tekanan ekonomi menjadi permasalahan utama yang harus dihadapi.
Beban finansial ini memengaruhi kondisi kesehatan mental dan fisik mereka. Data dari Katadata Insight Center (KIC) menyebutkan bahwa di Indonesia, faktor finansial menjadi pemicu utama gangguan kesehatan mental, dengan persentase laki-laki 76,1% dan perempuan 82,1%. Bagi generasi Z yang cenderung lebih sadar akan isu kesehatan mental, dampak tersebut juga terlihat dalam komunikasi intrapersonal melalui kecenderungan overthinking.
Refleksi diri dan kesehatan mental
Dengan persentase 16,3%, generasi Z menjadi salah satu generasi yang turut terjebak dalam kondisi tekanan ekonomi dan terlibat sebagai generasi Sandwich. Tekanan ekonomi yang menghimpit serta harapan untuk keluar dari situasi tersebut menekan komunikasi intrapersonal mereka. Generasi ini banyak berkomunikasi atau merefleksikan diri, serta memikirkan keputusan dan solusi dari beban finansial yang harus ditanggung.
Dalam konteks ketidakpastian ekonomi, komunikasi intrapersonal sebagai bentuk dialog dengan diri sendiri membantu seseorang menjadi lebih reflektif, mengembangkan diri, dan membangun daya tahan psikologis. Jadi, ketika menghadapi tekanan di tengah himpitan persoalan finansial ini, kelompok generasi Sandwich memiliki peluang lebih besar untuk melakukan komunikasi intrapersonal sebagai fase refleksi diri guna keluar dari kondisi tersebut.
Muncul karena ‘warisan’ budaya
Sandwich generation tidak muncul begitu saja tanpa sebab. Ada beberapa alasan mengapa generasiini muncul. Yang paling umum terjadi adalah karena:
- Kurangnya kemampuan mengelola keuangan hingga usia lanjut. Generasi Sandwich muncul sebab generasi di atasnya tidak mampu lagi membiayai masa tuanya, sehingga memerlukan bantuan finansial dari generasi di bawahnya. Hal ini menjadi alasan besar mengapa generasi ini muncul dengan tanggungan finansial berlipat.
- Warisan stereotip dari generasi Sandwich sebelumnya. Maksudnya, generasi sebelumnya yang juga menjadi bagian dari Sandwich Generation ini membentuk perspektif bahwa generasi di bawahnya wajib membantu menghidupi anggota keluarga lainnya.
Tersebar lintas generasi dan lintas kelas ekonomi
Di Indonesia, fenomena generasi sandwich melanda berbagai kalangan.
Menurut data Kompas.com (2022), beban terbesar dipikul oleh Generasi Y (43,6%), diikuti oleh Generasi X (32,6%), Generasi Z (16,3%), dan Baby Boomers (7,5%). Ironisnya, kelompok ekonomi menengah-bawah (44,8%) dan kelas bawah (36,2%) menjadi pemikul beban terbesar. Hal ini membuat mereka sulit keluar dari himpitan finansial dan memutus rantai generasi Sandwich.

Terdapat perbedaan beban biaya hidup pada setiap kelas ekonomi dalam generasi Sandwich. Namun, bagi kelompok kelas bawah, menengah-bawah, dan menengah-atas, mayoritas dari mereka memberikan bantuan finansial kurang dari Rp1 juta.
Menangkap Realitas Sosial Melalui Film Nasional
Generasi sandwich tidak hanya membebankan satu generasi, tetapi juga menurun dari generasi Boomers hingga generasi Z. Himpitan ekonomi semakin terasa ketika banyak dari mereka masih dibayangi isu PHK serta keterbatasan lapangan kerja. Tidak berhenti pada isu sosial, dampak tekanan ini nyata pada pemenuhan kebutuhan harian yang kini hanya bisa dialokasikan sebesar 74%, sementara beban cicilan terus membengkak hingga memotong 11,4% dari penghasilan.
Keresahan ini dirasakan nyata oleh masyarakat saat ini, terutama oleh kelas menengah ke bawah. Melihat realitas tersebut, film nasional mulai digarap untuk menyuarakan keresahan yang ada; mulai dari isu pengangguran hingga alokasi kebutuhan harian yang semakin terkikis. Karya seni ini berhasil berperan sebagai media komunikasi massa yang menangkap realitas, sekaligus membuat audiens lebih melek terhadap istilah sandwich generation.
Melalui layar lebar, masyarakat merasa terwakili dalam keresahan sosial ekonomi yang mereka alami. Film-film yang mengangkat realitas ini kemudian ramai dibahas di media massa karena berhasil menyentuh sisi emosional penonton melalui relevansi yang ditampilkan. Dari penyampaian keresahan sosial yang relevan, film sebagai media komunikasi massa membuktikan prinsip penting: strategi komunikasi terbaik adalah strategi yang mampu menyentuh realitas emosional masyarakat.
Peran Empati dalam Narasi Komunikasi Publik
Keberhasilan film nasional dalam memotret keresahan sosial membuktikan bahwa film sebagai medium bercerita dan berkomunikasi bisa lebih efektif jika didasarkan pada empati. Membangun sebuah narasi yang mampu diterima perlu menghadirkan kepekaan terhadap realitas yang benar-benar terjadi dan dirasakan di lapangan. Pendekatan humanis seperti ini tidak hanya berlaku bagi industri seni, tetapi juga dapat diterapkan oleh lembaga maupun organisasi dalam membentuk narasi publik mereka.
Organisasi atau lembaga yang ingin membangun reputasi positif harus mampu mengemas narasi komunikasi publik secara relevan dengan keresahan generasi masa kini. Ketika organisasi memahami apa yang menjadi kecemasan masyarakat, hubungan saling mendukung akan tercipta; masyarakat merasa didengar, dan organisasi mendapatkan dukungan melalui citra positif. Dalam praktisnya, sebuah lembaga atau organisasi dapat menyampaikan narasi komunikasi publik berlandaskan empati dengan menerapkan tiga langkah strategis sesuai dengan panduan konsep “The Three Pillars of Emphaty” yang dirilis oleh Talent Element (2025) berikut:
- Understanding: Memahami sudut pandang publik
- Feeling: Peka terhadap keresahan yang dirasakan publik
- Action: Membantu menyelesaikan masalah melalui komunikasi dua arah, sesuai dengan penyelarasan sudut pandang serta empati terhadap keresahan yang dirasakan publik.
Perencanaan Komunikasi Strategis
Melalui karya seni yang mengungkap keresahan sosial, film nasional membuktikan perannya sebagai media komunikasi yang kuat dalam menyampaikan realitas masyarakat saat ini. Memahami, merasakan, dan bertindak untuk menyuarakan keresahan tersebut merupakan langkah strategis bagi industri seni dalam menyentuh realitas emosional masyarakat. Sebab dengan melibatkan empati yang mendalam, komunikasi dapat berjalan selaras dan membantu membentuk narasi yang lebih positif. Komunikasi ini tidak hanya terbatas pada seni visual, melainkan juga mengakar pada setiap bentuk interaksi antara individu, masyarakat, dan organisasi. Untuk menyelaraskan sudut pandang serta membangun kepercayaan, keterlibatan empati dalam komunikasi publik diperlukan dan berperan secara utuh.
O2 Consulting merupakan firma komunikasi kebijakan publik yang berkomitmen sebagai mitra strategis dalam menghadirkan rekomendasi berbasis analisis data, sekaligus mengembangkan strategi komunikasi yang komprehensif; termasuk pengelolaan relasi media, perancangan kampanye, serta produksi materi kreatif lintas platform.
Pelajari langkah strategis Anda di o2consulting.co.id.
Referensi:
- Yuniarto, T. (2024). Generasi “Sandwich”: Definisi, Beban, dan Tantangan. Kompaspedia. https://kompaspedia.kompas.id/baca/paparan-topik/generasi-sandwich-definisi-beban-dan-tantangan
- Prudential Syariah. (n.d.). Ketahui serba-serbi apa itu sandwich generation. https://www.prudentialsyariah.co.id/id/wujudkan-keberkahan/article/apa-itu-sandwich-generation/
- Putri, K. (2025). 4 film Indonesia yang bercerita tentang generasi sandwich. Tempo.co. https://www.tempo.co/teroka/4-film-indonesia-yang-bercerita-tentang-generasi-sandwich-1205565
- Muhamad, N. (2025). Masalah finansial paling mempengaruhi kesehatan mental warga RI. Databoks. https://databoks.katadata.co.id/layanan-konsumen-kesehatan/statistik/6826a9193e3f4/masalah-finansial-paling-mempengaruhi-kesehatan-mental-warga-ri
- Primantoro, A. Y. (2025). Tingkat keyakinan masyarakat terhadap perekonomian merosot ke titik terendah. Kompas.id. https://www.kompas.id/artikel/tingkat-keyakinan-masyarakat-terhadap-perekonomian-terendah-dalam-tiga-tahun-terakhir
- The Element. (2025). The three pillars of empathy: A guide for leaders. Talent Element. https://www.talentelement.com/the-three-pillars-of-empathy-a-guide-for-leaders/
- Fajriah, N. R. NUR RIZKI FAJRIAH 202310415226 UAS PSIKOLOGI KOMUNIKASI. https://www.academia.edu/download/123764042/NUR_RIZKI_FAJRIAH_202310415226_UAS_PSIKOLOGI_KOMUNIKASI.pdf